Sajian informasi yang ada di bangka belitung berupa masakan, lowongan kerja, kuliner, objek wisata, khas bangka dan informasi umum lainnya.

Cerita Rakyat Bangka Belitung Persik Batu

Cerita Rakyat Bangka Belitung Persik Batu : Artikel cerita rakyat bangka belitung tentang persik batu dari pulau bangka berikut ini adalah karya tulis dari akhamed lazuardi. Silahkan mencari profile lengkapnya dengan mengetikkan namanya di google.Pada zaman dahulu kala, di bagian utara pulau Bangka ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Rakyat hidup makmur, mereka tidak pernah kekurangan apapun. Di musim kemarau, mereka tidak pernah kekurangan persediaan air serta makanan. Hasil panen yang tersimpan di lumbung penduduk, bisa mencukupi kebutuhan mereka hingga kemarau berlalu.

Raja itu mempunyai putra satu-satunya bernama Adira. Putra raja itu sangat terkenal dengan ketampanannya. Banyak putri-putri kerajaan ingin memikat Pangeran Adira. Tetapi Pangeran Adira tidak mau ambil pusing. “Nanti juga putri-putri kerajaan itu akan bosan dengan sendirinya”, pikir Pangeran Adira. Hal itulah yang membuat Raja sangat sedih, karena Pangeran Adira belum mempunyai calon istri. Padahal ia harus menggantikan kedudukan sang Raja.
 
Baca lengkap cerita rakyat bangka belitung persik batu disini !
Suatu hari, Baginda Raja jatuh sakit. Tabib dari segala penjuru kerajaan telah didatangkan, namun tak seorang pun dari mereka yang dapat mengobati sang Baginda Raja. Sampai akhirnya ada seorang nenek tua yang tidak diketahui asal-usulnya. Nenek tua itu berkata bahwa hanya ada satu obat yang bisa mengobati sang Raja yaitu buah persik batu. Tetapi buah itu sulit untuk didapatkan. Buah itu hanya tumbuh di hutan lebat di daerah Gunung Maras. Selain itu, buah itu juga harus ditemukan dalam waktu 3 hari. Bila tidak, khasiatnya akan hilang.

Pangeran Adira langsung memutuskan untuk mencari buah itu. Mula-mula Ratu tidak mengizinkan Pangeran pergi mencari buah itu karena Ratu takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akan menimpa sang Pangeran. Pangeran juga belum begitu berpengalaman menerobos hutan. Namun sang Pangeran terus mendesak Ratu hingga akhirnya dia pun diizinkan untuk mencari buah itu.

"Carilah di daerah Gunung Maras, bila kau berhasil mendapatkannya, kau akan menemukan hadiah yang sangat berharga”, lanjut nenek itu. Pangeran Adira bergegas pergi untuk mencari buah itu karena waktunya hanya tiga hari.

Dalam perjalanan ia memikirkan perkataan nenek itu tentang hadiah berharga yang akan didapatnya nanti. Tetapi ia segera melupakan hal itu, karena ia hanya ingin mendapatkan obat untuk ayahandanya.

Dua hari pun berlalu, sang Pangeran belum juga menemukan hutan yang dimaksud si nenek. Ia mendaki Gunung Maras, dan menyeberangi sungai Perimping. Akhirnya sampailah ia di sebuah hutan yang sangat lebat. Karena sangat lelah, Pangeran pun memutuskan untuk beristirahat sejenak dan tertidur di bawah pohon yang lebat juga rindang.

Tak lama kemudian, ia bangun dan merasa sangat lapar. Ia lalu mencari buah yang bisa dimakan. Akhirnya ia menemukan tiga buah persik batu. Pangeranpun bertanya-tanya dalam hati “apakah itu yang dinamakan buah persik batu?”. Pangeran ragu untuk mengambilnya karena buah itu biasa saja, tidak terlihat keistimewaannya.
 
Pangeran pun mengambil buah itu dan mencari tempat untuk makan. Pangeran Adira memilih makan di tepi danau karena akan menambah selera makannya apabila di tepi Danau Siring. Diambilnya salah satu buah diantara tiga buah itu. Tapi suatu keanehan terjadi ketika pangeran membuka buah pertama, tiba-tiba keluarlah asap tebal yang lambat laun menjadi tipis. Dari dalam kabut itu keluarlah sesosok tubuh yang amat indah dan cantik. Wanita itu meminta air karena ia sangat haus.

“Wahai pemuda yang tampan, tolonglah saya. Tolong ambilkan air danau itu, saya sangat haus sekali”, pinta wanita itu. Tetapi Pangeran Adira tidak menghiraukan perkataan wanita itu karena terpana akan parasnya yang cantik dan mempesona. Akhirnya wanita itu mati karena lemas dan hilang bersama dengan buah itu. Pangeran sangat menyesali apa yang telah dilakukannya, coba saja kalau dia mau mengambil air untuk wanita itu pasti wanita itu tidak akan mati. Terlintas dalam benak pangeran kalau wanita itu adalah siluman yang menjelma menjadi manusia. Lalu pangeran kembali melanjutkan mencari buah persik itu.

Setelah lama berjalan, Pangeran membuka buah yang kedua dan terjadi hal yang sama seperti saat dia membuka buah yang pertama. Sesosok wanita yang lebih cantik lagi dari wanita yang pertama muncul di hadapan sang Pangeran dan meminta air. Tetapi hal yang sama dilakukan lagi oleh Pangeran sehingga membuat wanita itu mati karena kehausan dan hilang bersama dengan buah tersebut. Kembali pangeran menyesali apa yang telah diperbuatnya. Berkali-kali dia mengutuk dirinya.

Pangeran Adira sangat sedih sekali, ia berjanji jika ada wanita yang ketiga ia tidak akan membiarkan wanita itu mati. Ia lalu membuka buah ketiga dan benar bahwa di balik kabut yang mulai menipis itu ada sesosok wanita yang lebih cantik lagi dari kedua wanita yang muncul di hadapan Pangeran. Pangeran pun tercengang melihat kecantikan yang begitu indahnya hingga meneteskan air liur. Tetapi Pangeran segera sadar dan tanpa diminta, dia langsung mengambil air di danau terdekat dan memberikannya pada wanita itu air yang segar. Maka wanita yang ketiga ini pun tidak mati dan selamatlah nyawanya karena pertolongan sang Pangeran.

“Wahai pemuda tampan aku adalah bidadari yang dikutuk oleh seorang penyihir tua”, cerita wanita itu. “Aku akan bebas jika ada orang yang mau mengambilkan air untukku. Sudah bertahun-tahun aku berada di dalam buah persik batu ini”. Mendengar kata-kata persik batu Pangeran sangat terkejut sekaligus gembira karena akhirnya dia menemukan buah yang ia cari. Pangeran pun menceritakan perjalanannya mencari buah itu. Setelah mendengar cerita dari Pangeran, wanita itu memetik beberapa buah persik batu dan memberikannya kepada Pangeran.

Pangeran Adira langsung bergegas pulang ke istana karena waktunya sudah tidak banyak lagi. Sudah hampir 3 hari dia dia berkelana mencari buah persik batu itu dan sekarang baru mendapatkannya. Pangeran tidak mau sampai kehilangan ayahanda yang sangat dicintainya dan tidak lupa juga Pangeran membawa wanita cantik nan jelita itu ke istana, karena Pangeran telah jatuh cinta pada wanita itu. Wanita itu pun dengan senang hati menemani Pangeran Adira pulang ke istananya.

Setibanya di istana, Pangeran sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat, prajurit, dan terutama ditunggu oleh sang Ratu. Pangeran pun segera memberikan buah persik batu itu pada tabib istana. Tanpa menunggu aba-aba lagi, sang tabib langsung meramu buah persik batu itu menjadi obat untuk sang Baginda Raja. Setelah beberapa hari meminum ramuan buah persik itu, kesehatan sang Raja berangsur-angsur mulai pulih kembali.

Setelah Raja sembuh, Pangeran Adira meminta izin pada ayahanda dan ibunya untuk menikahi seorang wanita. Raja dan Ratu sangat terkejut sekaligus senang mendengar ucapan sang Pangeran anak satu-satunya itu. “Apakah benar yang kamu katakan tadi anakku?”, tanya sang Raja. “Ya ayah, saya akan menikahinya”, jawab Pangeran. “Siapakah nama dikau wahai wanita?”, tanya Baginda Raja pada wanita itu. “Nama hamba Ayu, Baginda”, jawab wanita itu sambil tersenyum malu.

Ternyata wanita itulah hadiah berharga untuk Pangeran Adira seperti yang dikatakan nenek tua itu. Ternyata si nenek tua itu adalah penyihir yang dimaksud oleh wanita cantik itu. Setelah menikah dan hidup bersama dengan Pangeran Adira, Putri Ayu melahirkan seorang anak perempuan yang begitu cantik, kulitnya putih seputih salju, merah bibirnya semerah delima, rambutnya lembut selembut sutra. Dan dara cantik itu diberi nama Persik, karena Pangeran Adira dan Ratu Ayu ingin mengingatkan kanak-kanak Putri Ayu yang telah meninggal di dalam buah persik batu itu.

Mudah - mudahan dari cerita rakyat bangka belitung di atas ada pelajaran beharga yang dapat kita ambil hikmahnya. Demikianlah artikel ini dibuat, semoga bermanfaat.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Cerita Rakyat Bangka Belitung Persik Batu

0 komentar: